PortalNusantaraNews.id | Sampang – Di tengah era digitalisasi dan kemajuan teknologi yang serba cepat, masih ada potret memilukan kehidupan rakyat kecil yang terpinggirkan dari perhatian negara.
Ibu Naimah (60), seorang lansia warga Kampung Gudur, Dusun Monduh, Desa Kara, Kecamatan Torjun, Kabupaten Sampang, hidup seorang diri di rumah sederhana berdinding bambu dan beratap seng, tanpa fasilitas dasar seperti listrik dan kamar mandi layak.
Ironisnya, selama hidupnya, Ibu Naimah tidak pernah tersentuh bantuan sosial (Bansos) dari pemerintah, baik tingkat desa, kabupaten, maupun pusat. Kondisi ini menimbulkan keprihatinan mendalam, mengingat usianya yang lanjut dan kehidupannya yang serba kekurangan.
Ketika ditemui tim awak media pada Jum’at (10/10/2025), Ibu Naimah tak kuasa menahan air mata. Dengan suara lirih ia menceritakan kehidupannya yang penuh keterbatasan.
“Saya hidup sendirian, Mas. Tidak pernah dapat bantuan sosial. Anak saya tiga, dua tinggal di Jawa Jember dan Probolinggo. Mereka juga hidup pas-pasan. Satu anak perempuan saya janda, punya tiga anak, salah satunya yatim. Sekarang dia di Malaysia, tapi sejak tiga tahun tidak pernah kirim uang,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Rumah yang ditempati Ibu Naimah hanya satu atap yang menyatu dengan dapur. Sebagian ruangannya ditutup dengan soprai dan tikar seadanya. Untuk penerangan, listrik ia sambung dari tetangga.
Lebih menyedihkan lagi, ia tidak memiliki kamar mandi maupun WC. Sebagai pengganti, ia menancapkan sebatang kayu di tanah dan menutupnya dengan kain lusuh untuk menjaga privasi.
Kondisi ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah, terutama pihak desa dan dinas sosial, agar lebih proaktif dalam menelusuri masyarakat miskin yang belum tersentuh program kesejahteraan. Pemerintah memiliki tanggung jawab moral dan hukum sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, khususnya Pasal 65 ayat (3) yang menegaskan kewajiban negara dalam melindungi dan menyejahterakan lansia.
Semangat gotong royong masyarakat juga diharapkan tetap tumbuh, agar kisah pilu seperti yang dialami Ibu Naimah tidak lagi terjadi di bumi Madura yang dikenal religius dan penuh rasa kemanusiaan.(Pnn)












