banner 1000x130
Daerah  

Diduga Langgar SOP, Proyek Hotmix Rp4,9 Miliar di Bangkalan Dikerjakan Saat Jalan Masih Tergenang Air

banner 120x600
banner 1000x130

PortalNusantaraNews.id, Bangkalan — Proyek pembangunan jalan hotmix dengan nilai anggaran mencapai Rp4,9 miliar di Kabupaten Bangkalan kembali menuai sorotan tajam dari masyarakat.

Pasalnya, pengerjaan pengaspalan di Jalan Raya Desa Panjalinan, Kecamatan Blega, dan Desa Paeng, Kecamatan Modung, diduga kuat tidak sesuai standar operasional prosedur (SOP) konstruksi jalan.

banner 325x300

Proyek yang dikerjakan oleh CV. Adipati Karya tersebut tetap melakukan penggelaran aspal hotmix meskipun kondisi cuaca baru saja diguyur hujan dan permukaan jalan masih terlihat basah serta tergenang air.

Berdasarkan pantauan awak media di lokasi pada Kamis malam (18/12/2025), sejumlah titik jalan tampak masih berair, namun proses pengaspalan tetap dipaksakan berjalan.

Dari dokumentasi foto yang diambil, terlihat jelas lapisan aspal bercampur dengan air, kondisi yang berpotensi menyebabkan aspal tidak melekat sempurna pada lapisan dasar jalan.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius terkait kualitas dan daya tahan jalan dalam jangka panjang.

“Ini jelas tidak sesuai prosedur. Aspal digelar setelah hujan, jalan masih becek. Kalau seperti ini, umur jalan pasti tidak lama. Anggarannya besar, tapi dikerjakan asal-asalan. Ini sangat merugikan masyarakat,” tegas (M), salah satu warga Desa Panjalinan.

Adapun kegiatan proyek tersebut meliputi:

  • Nama Kegiatan: Penyelenggaraan Jalan Kabupaten/Kota
  • Lokasi: Jalan Raya Desa Paeng, Kecamatan Modung, dan Desa Panjalinan, Kecamatan Blega
  • Jenis Pekerjaan: Hotmix
  • Volume: 2 Kilometer
  • Sumber Dana: APBD Tahun Anggaran 2025
  • Nilai Kontrak: Rp4.949.328.988,00
  • Pelaksana: CV. Adipati Karya

Dengan anggaran hampir menyentuh Rp5 miliar, warga mempertanyakan mengapa pengerjaan justru dilakukan tidak sesuai standar teknis. Diketahui secara umum, pengaspalan hotmix dilarang keras dilakukan di atas permukaan yang basah atau tergenang air karena dapat menyebabkan aspal mudah retak, mengelupas, bahkan hancur dalam waktu singkat.

Sejumlah ahli konstruksi menyebutkan bahwa penggelaran hotmix harus dilakukan dalam kondisi cuaca cerah, suhu tertentu, serta permukaan jalan yang kering dan padat agar kualitas jalan terjamin.

Tak hanya itu, warga juga menyoroti lemahnya pengawasan proyek. Diduga terdapat pengabaian dari pihak konsultan pengawas maupun dinas terkait, karena meskipun kondisi lapangan tidak memenuhi syarat, pekerjaan tetap dibiarkan berlangsung tanpa adanya penghentian atau evaluasi.

Saat dikonfirmasi awak media, As’ad, yang mengaku sebagai konsultan pengawas proyek tersebut, menyatakan bahwa pengaspalan tetap aman dilakukan meski jalan tergenang air.

“Meski jalan tergenang air tidak masalah, karena sudah disemprot dengan lem dasar. Itu tidak berpengaruh dan tidak melanggar SOP,” ujar As’ad.

Pernyataan tersebut justru semakin memicu polemik di tengah masyarakat. Pasalnya, fakta di lapangan menunjukkan kondisi yang bertolak belakang dengan standar teknis pengerjaan jalan.

Kesan terburu-buru dalam penyelesaian proyek juga terlihat jelas. Genangan air yang masih ada di tengah proses pengaspalan mengindikasikan bahwa kualitas pekerjaan diduga bukan menjadi prioritas utama, sementara target penyelesaian proyek seolah dipaksakan.

Warga khawatir, jika kondisi ini terus dibiarkan, proyek tersebut hanya akan menjadi pemborosan uang negara tanpa manfaat jangka panjang.

“Enaknya cuma dua atau tiga tahun, rusaknya bisa puluhan tahun dibiarkan,” ujar warga lain yang enggan disebutkan identitasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari dinas terkait mengenai dugaan pelanggaran SOP dan lemahnya pengawasan dalam proyek tersebut.
(Tim)

banner 300x250
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *